SEJARAH KIMIA KELOMPOK 7 "PERKEMBANGAN KIMIA ORGANIK" - Articel Iftah Al-Muttaqin

Saturday, April 25, 2015

SEJARAH KIMIA KELOMPOK 7 "PERKEMBANGAN KIMIA ORGANIK"



BAB VII
PERKEMBANGAN KIMIA ORGANIK

A.     Penemuan Senyawa Organik
Sekitar tahun 4000 Sm orang Mesir telah mengenal zat warna biru indigo yang berasal dari tumbuhan. Obat-obatan yang digunakan orang pada abad pertengahan sebagian besar adalah senyawa organik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dengan cara ekstraksi. Ahli kimia muslim pada abad ke-8 telah mengenal senyawa-senyawa organik misalnya alkohol, asam cuka, minyak mawar, aldehida, dan mereka mampu memperolehnya dalam keadaan murni melalui proses destilasi. Di Cina juga telah dikenal destilasi alkohol pada masa pemerintahan dinasti Thang, yaitu sekitar abad ke-9, abad ke-12. Boyle pada tahun 1661 pernah melakukan destilasi kering terhadap kayu dan menghasilkan campuran metil alkohol dan aseton.
Scheele juga berhasil membuat asam oksalat dengan cara oksidasi gula oleh asam nitrat. Ia juga menemukan gliserol sebagai senyawa yang terdapat pada lemak hewan dan  minyak tumbuhan.
Setelah tahun 1800, Proust mempelajari cairan dari buah serta mengidentifikasi tiga jenis gula yaitu sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Gottlieb Kirchof menemukan bahwa apabila pati (amiluta) dipanaskan bersama asam sulfat, glukosa dapat diisolasi dalam bentuk sirop. Beberapa tahun kemudian, Hendri Braconnot, seorang ahli kimia Perancis, uga memperoleh glukosa dengan cara memanaskan perca kain dengan asam sulfat. Gay-Lussac dan Louis Jacques Thenard membuktikan melalui analisis bahwa gula, pati dan selulosa mengandung unsur hidrogen dan oksigen dalam perbandingan berbanding satu.
Tahun 1805, Friedrich Suturner berhasil mengisolasi suatu senyawa berbentuk kristal dan opiun. Senyawa ini disebut morfin, dan pada abad 1816 ia menjelaskan lebih rinci bahwa senyawa ini mengandung unsur nitrogen dan mempunyai sifat basa. Beberapa tahun kemudian, Pierre Pelletier dan Joseph Caventou, mengisolasi kristal dari senyawa yang serupa dan dinamakan “alkaloida”. Mereka memperoleh skriknin dan brusin dari sejenis kacang-kacangan, kinir dan sinkonin dari kulit pohon kina.
Hans Cristian Oersted dari Denmark menemukan piperin dari mereka. Friedlieb Runge berhasil mengisolasi kafein dan biji kopi. Pelletier dan Francois Mugendie, ahli fisiologi Perancis menemukan ametin dalam kar ipecacuana, dan Meissener mengisolasi veratindari biji sabadilla.
Antara tahun 1810 dan 1823 Chevruel telah melakukan studi tentang asam-asm lemak. Ia mengemukakan bahwa penguraian molekul lemak oleh basa menghasilkan sabun dan gliserol dan karenanya proses tersebut dinamakan penyabunan (saponification).
Dari hasil karyanya Chevreul menyatakan bahwa lemak itu ialah campuran senyawa-senyawa yang terbentuk dari gliserol dan asam lemak. Ali-ahli kimia lain juga mengisolasi beberapa senyawa urea dari urin manusia (Roulle, 1773), asam hurupat dari urine kuda (Liebig, 1829), kolesterol dari batu ginjal (Poulletier-de-Lasalle).

Sintesis Senyawa Organik
Orang percaya bahwa senyawa organik hanya dalam alam dapat terbentuk karena adanya “kekuatan hidup” (vital vorce). Ini berarti bahwa senyawa organik hanya dapat terbentuk dalam hidup (in vivo), yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan. Doktrin vitalisme ini berlangsung lama sampai Wohler membuktikan melalui eksperimennya bahwa doktrin tersebut tidak benar.
Friedrich Wohler dalam eksperimen yang dilakukan tahun 1828 menarik kesimpulan bahwa urea dapat dibentuk dalam laboratorium (in vitro) dengan jalan memanaskan amonium sianat. Besama Liebeg ia meneliti minyak buah badam (bitter almond) dan menemukan adanya radikal benzoil dalam senyawa yang ada pada minyak tersebut.
Seorang ahli kimia bangsa Jerman, pada tahun 1844 berhasi melakukan sintesis asam cuka dari senyawa yang dilakukan dari unsur-unsurnya. Sumbangan Adolf Wilhelm Herman Kolbe bagi kimia orgbik ialah penelitian dalam bidang kimia orgnik serta mengenai struktur senyawa organik dari zat anorganik, dengan cara mereaksikan karbondisulfida dengan klor menjadi triklor asam cuka. Senyawa ini kemudian dapat diubah menjadi asam cuka dengan jalan mereaksikannya dengan hidrogen.
Kolbe juga melakukan eksperimen penguraian asam orgnik oleh elektrolisis, reaksi sianogen pada tahun 1861 ia menemukan sintesis senyawa koralin dari fenol dengan asam karbonat serta mempelajari sifat antiseptikk senyawa tersebut.
Ahli kimia yang lain juga memberikan sumbangan bagi perkembangan sintesis senyawa organik dari senyawa anorganik ialah Berhelot Pierre Eugene Marcelin Berhelot. Tahun 1856 ia mula mempelajari kemungkinan membuat senyawa organik dari senyawa anorganik dan melakukan eksperimen tentang sintesis metana, etilena, naftalena dari karbon disulfida dan hydrogen sulfida yang keduanya dapat disintesis, asitelina dengan mengalirkan gas hidrogen melalui  unga api listrik yang dihasilkan oleh elektroda karbon. Tahun 1862 dan pada tahun 1866 ia pun melali tabung yang dipanaskan. Selanjutnya ia berhasil membuat metil alkohol dan etil alkohol.
 Dalam bukunya yang berjudul “Chimie organique fondee sur la synthese” yang terbit pada tahun 1860, ia mengemukakan pendapatnya bahwa tidak ada perbedaan antara kimia organik dengan kimia anorganik, karena senyawa yang terdapat pada organism hidup dapat disintesis dari zat-zat anorganik.

B.     Analisis Senyawa Organik
Pada periode antara tahun 800 sampai 1850 sangat banyak dilakukan isolasi senyawa organik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan dan sintesis senyawa-senyawa yang berhasil disintesis tadi, kemudian direaksikan lagi dengan zat-zat tertentu sehingga terjadi senyawa baru yang merupakan derivat atau turunannya.
Justus Von Liebig semasa mudanya ia pernah melihat pedagang keliling membuat perak fulminat sebagai bahan peledak, selama ia melakukan penelitian terhadap perak fulminat. Wohler menemukan perak sianat, yang ternyata mempunyai susunan kimia yang sama denga perak fulminat. Kedua, dalam musim panas tahun 1832 mereka bekerja sama memurnikan minyak buah badam (bitter almond) dan memperoleh benzaldehida dan senyawa-senyawa baru yang mempunai gugus atom yang sama yaitu radikal benzoil. Tahun 1834 Liebig berhasi menganalisis asam urat.
Liebig mengembangkan analisis senyawa organik dengan menentukan karbon dan hidrogen dengan metode yang lebih baik. Sampel zat yang di analisis , setelah ditimbang ditempatkan dalam tabung gelas bersama dengan tembaga oksida sebagai oksidator lalu dipanaskan. Air yang terbentuk dari reaksi oksida ini, ditampung dalam tabung pengering yang telah ditimbang, sedangkan karbon dioksida ditampung pada gelas penampung yang telah berisi kalium hidroksida, yang telah ditimbang juga. Dari berat air dan karbondioksida yang dihitung dari pertambahan berat gelas penampung tadi. Berat hidrogen dan karbon dapat ditentukan. Penentuan hidrogen dilakukan terpisah dari analisis hidrogen dan karbon, serta sampel yang diperiksa , juga dipisahkan.
Jean Baptista Andre Dumas , pada usia muda ia telah bekerja pada apoteker dan mengikutinya sampai ke Genewa pada tahun 1816. Disana ia memperoleh pendidikan dalam botani dan kimia dengan baik bersama Charles Coin Det ia menggunakan iodium mengatasi penyakit gondok.
Dalam metode dumas sampel senyawa organik yang dianalisis dipanaskan dalam tabung yang berisi tembaga oksida dan kawat kasa tembaga. Tembaga oksida berfungsi mengoksidasi sampel dan nitrogen dalam senyawa tersebut diubah menjadi molekul nitrogen yang berupa gas
Metode lain untuk menentukan kadar nitrogen ialah metode yang dikemukakan oleh kjeldahl.  Dalam metode ini sampel dipanaskan dengan asam sulfat pekat, yang mengubah nitrogen menjadi garam amonium sulfat. Larutan tersebut kemudian ditambah dengan basa dan amonia yang terjadi ditentukan melalui titrasi. Dengan demikian kadar nitrogen dapat dihitung dari hasil titrasi tersebut.
Beberapaa teori tentang senyawa organik. Teori radikal pada awal abad ke 19 dapat dikatakan belum ada konsep yang menyeluruh dan terpadu mengenai senyawa organik. Beberapa ahli kimia memang telahh dapat mengisolasi senyawa senyawa organik dari tumbuhan maupun hewan, bahkan diantara mereka juga telah melakukan sintesi senyawa organik dari zat zat orgaanik .
Namun demikian mereka belum dapat melakukan generalisasi dari fakta fakta yang diperoleh sehingga belum ada gambaran tentang kimia organik secara keseluruhan. Beberapa orang ahli kimia menyatakan pendapatnya sesuai dengan hasil eksperimen yang mereka lakukan.
Lavoisier menyatakan bahwa senyawa organik itu adalah gabungan antara radikal dengan oksigen sebagaimana telah kita ketahui pernyataan ini sesuai dengan pandangan Lavoisier tentang asam dan untuk senyawa organik radikal tersebut dari atas sekelompok atom – atom.
Tahun 1832 Liebig dan Wöhler menerbitkan tulisannya tentang minyak buah badam (bitter almond) dan dapat mengisolasi senyawa organik yang sekarang dinamakan benzaldehida. Oleh karena senyawa tersebut dapat diubah melalui reaksi kimia menjadi senyawa – senyawa lain. Yang sifat – sifatnya tidak begitu berbeda satu dengan lain, maka dikemukakan oleh mereka bahwa senyawa tersebut dan turunannya mengandung radikal benzoil. Pada perkembangan selanjutnya teori radikal ini ditambah lagi dengan pendapat Berzelius tentang radikal etil, Liebig tentang radikal asetil, Bunsen tentang radikal Kakodil, yaitu radikal yang mengandung logam arsen.
Tahun 1834 melalui penelitiannya Dumas mengemukakan fakta bahwa klor dapat menggantikan hidrogen dalam senyawa organik dikisahkan bahwa pada Dumas kemudian menelitinya dan ia menemukan bahwa asap dari lilin yang menyala itu mengandung asam klorida (HCl). Disamping itu ia juga meneliti reaksi klor terhadap alkohol yang menghasilkan kloroform.
Pendapat Dumas ini bertentangan dengan pendapat Berzelius yang menyatakan bahwa penggabungan secara kimia pada senyawa organik tergantung pada kesadaran muatan listrik atom – atom yang  membentuknya.
August Wilhelm von Hoffmann adalah seorang ahli kimia yang terkenal karena karyanya tentang analisa. Hoffmann melakukan penelitian terhadap batu bara (coal tar) dan ia menemukan analisa pada tahun 1843. Penelitian selanjutnya yang dilakukan melalui suatu reaksi kimia yang sekarang dikenal dengan nama reaksi Hoffmann. Ia melakukan penelitian terhadap beberapa zat warna anilina.
Tahun 1850, Hoffmann melakukan eksperimen dan dapat membuktikan bahwa dengan mereaksikan etiliodida dengan ammonia, semua hidrogen dari ammonia secara berturut – turut dapat diganti oleh etil. Lebih lanjut, Hoffmann membuat etilena dan dietilanilina dari anilina dengan etilbromida. Disamping itu ia juga berhasil membuat etilamilanina dari etilanilina dengan amilbromida.

1 comment: